Peran perempuan di laut selama ini kerap tersembunyi di balik citra maskulin dunia maritim. Di balik kapal besar yang melintasi samudra, pelabuhan yang tak pernah tidur, hingga industri perikanan yang menghidupi jutaan keluarga, perempuan sebenarnya hadir dan bekerja keras, namun sering tidak terlihat, tidak tercatat, bahkan tidak terlindungi. Aturan baru dalam Konvensi Buruh Maritim atau Maritime Labour Convention MLC yang baru disepakati, mulai membongkar fakta mengejutkan tentang bagaimana perempuan di laut selama ini diperlakukan dan bagaimana seharusnya mereka dilindungi.
Aturan Baru MLC dan Sorotan Global pada Peran Perempuan di Laut
Revisi terbaru MLC yang disepakati di tingkat Organisasi Buruh Internasional ILO menjadi titik balik penting. Untuk pertama kalinya, isu kekerasan berbasis gender, pelecehan, serta perlindungan khusus bagi perempuan pelaut dan pekerja maritim dibahas secara eksplisit. Di sinilah dunia mulai menaruh perhatian lebih serius terhadap peran perempuan di laut yang selama ini berjalan dalam bayang bayang diskriminasi dan minim regulasi.
MLC selama bertahun tahun dikenal sebagai “konstitusi buruh maritim” yang mengatur jam kerja, kondisi kerja, akomodasi, kesehatan, dan kesejahteraan pelaut. Namun, pengalaman perempuan sering tidak masuk dalam rumusan kebijakan. Dengan adanya amandemen baru, negara negara anggota didorong memasukkan prosedur penanganan pelecehan seksual, mekanisme pengaduan yang aman, serta kewajiban pemilik kapal untuk menjamin lingkungan kerja yang bebas kekerasan bagi semua awak, termasuk perempuan.
Di tingkat global, asosiasi pelaut perempuan, LSM, dan serikat buruh menyambut langkah ini sebagai pengakuan resmi bahwa masalahnya nyata: perempuan di kapal bukan sekadar “penumpang tambahan”, melainkan pekerja profesional yang membutuhkan perlindungan setara.
Menguak Statistik Tersembunyi tentang Peran Perempuan di Laut
Selama bertahun tahun, data tentang perempuan di sektor maritim sangat terbatas. Banyak negara tidak memisahkan statistik pelaut berdasarkan jenis kelamin, sehingga sulit memotret kondisi sebenarnya. Namun studi internasional beberapa tahun terakhir mulai mengisi kekosongan itu dan hasilnya cukup mengejutkan.
Diperkirakan hanya sekitar dua persen dari total pelaut dunia yang merupakan perempuan. Angka ini bahkan lebih kecil jika hanya menghitung kapal niaga samudra lepas. Di beberapa jenis kapal seperti tanker dan kapal barang berat, kehadiran perempuan bisa kurang dari satu persen. Sebaliknya, di kapal pesiar dan kapal penumpang, proporsi perempuan sedikit lebih tinggi, tetapi sering kali terkonsentrasi di posisi pelayanan bukan posisi teknis atau komando.
Dalam sektor perikanan, peran perempuan di laut kerap tidak diakui sebagai “pekerjaan utama”. Di banyak komunitas pesisir, perempuan ikut melaut dengan perahu kecil, mengolah hasil tangkapan, memperbaiki jaring, mengelola pemasaran, namun nama mereka jarang tercatat sebagai nelayan resmi. Hal ini berdampak langsung pada akses bantuan, asuransi, dan program pemerintah.
“Selama perempuan di laut tidak tercatat, mereka akan terus tertinggal dalam akses hak dan perlindungan”
Statistik yang mulai terbuka inilah yang menjadi salah satu pendorong kuat revisi MLC, karena organisasi internasional tidak bisa lagi menutup mata terhadap ketimpangan yang begitu mencolok.
Budaya Maskulin di Kapal dan Tantangan Harian Perempuan Pelaut
Di atas kapal, budaya kerja yang keras, hierarkis, dan didominasi laki laki membentuk lingkungan yang tidak selalu ramah bagi perempuan. Banyak pelaut perempuan menceritakan pengalaman merasa harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk membuktikan bahwa mereka pantas berada di sana. Canda seksis, komentar merendahkan, hingga pelecehan terang terangan bukan hal asing di banyak testimoni.
Kondisi ruang tinggal di kapal juga kerap tidak dirancang dengan mempertimbangkan keberadaan perempuan. Kamar mandi bersama, kabin yang minim privasi, serta tidak adanya standar khusus untuk akomodasi aman bagi awak perempuan menjadi masalah klasik. Dalam beberapa kasus, perempuan ditempatkan di kabin terpisah, tetapi tanpa prosedur keamanan yang memadai untuk mencegah gangguan dari rekan kerja.
Tekanan psikologis pun tidak kecil. Perempuan pelaut sering merasa terisolasi, menjadi satu satunya perempuan di kapal yang berawak puluhan bahkan ratusan orang. Situasi ini menimbulkan beban mental tambahan selain tuntutan kerja yang sudah berat, dari jam kerja panjang hingga kondisi cuaca ekstrem.
Peran Perempuan di Laut dalam Rantai Ekonomi Maritim yang Luas
Jika hanya melihat ke atas kapal, peran perempuan di laut tampak kecil. Namun jika rantai ekonomi maritim dilihat secara utuh, dari hulu ke hilir, gambaran yang muncul jauh berbeda. Perempuan hadir di hampir setiap mata rantai, meski sering berada di posisi yang kurang terlihat.
Di sektor pelayaran, perempuan bekerja sebagai perwira dek, perwira mesin, operator radio, ahli logistik, petugas keselamatan, hingga staf manajemen di kantor darat. Di pelabuhan, perempuan terlibat dalam administrasi, kepabeanan, pengawasan barang, serta layanan penumpang. Di industri perikanan, perempuan memegang peran besar dalam pengolahan, pengemasan, dan distribusi hasil laut.
Peran perempuan di laut juga tampak jelas dalam konteks komunitas pesisir. Mereka mengelola keuangan rumah tangga nelayan, mengorganisir koperasi, mengembangkan usaha kecil berbasis hasil laut seperti pengolahan ikan kering, kerupuk, hingga produk olahan premium. Kontribusi ekonomi ini sering kali menjadi penyangga utama ketika musim paceklik atau ketika harga ikan jatuh.
Yang menarik, semakin banyak studi menunjukkan bahwa ketika perempuan memiliki posisi lebih kuat dalam rantai nilai maritim, keputusan ekonomi keluarga cenderung lebih stabil dan berorientasi jangka panjang. Pendidikan anak, tabungan, dan investasi kecil kecil menjadi prioritas, yang pada gilirannya memperkuat ketahanan sosial di komunitas pesisir.
Aturan Baru MLC Mengubah Peta Perlindungan Perempuan di Laut
Revisi MLC membawa sejumlah ketentuan penting yang secara langsung menyentuh peran perempuan di laut. Salah satu fokusnya adalah pencegahan kekerasan dan pelecehan berbasis gender di kapal. Negara anggota dan pemilik kapal kini didorong untuk memiliki kebijakan tertulis, prosedur pelaporan yang jelas, serta mekanisme perlindungan saksi dan korban.
Selain itu, standar akomodasi mulai diarahkan agar lebih inklusif. Kapal kapal baru diharapkan merancang kabin dan fasilitas sanitasi dengan mempertimbangkan keberadaan awak perempuan, termasuk aspek keamanan dan privasi. Beberapa negara sudah mulai mensyaratkan adanya prosedur pemisahan ruang tinggal tertentu jika ada awak perempuan di kapal.
MLC juga menyoroti pentingnya pelatihan bagi seluruh awak kapal terkait perilaku profesional, etika kerja, dan pencegahan pelecehan. Pelatihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen untuk mengubah budaya di kapal dari yang permisif terhadap candaan kasar menjadi lingkungan yang menghormati semua pekerja.
Dalam konteks kesehatan, isu seperti akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, kebutuhan khusus saat haid, kehamilan, hingga masa menyusui mulai masuk dalam diskusi. Meski implementasinya masih jauh dari ideal, pengakuan formal dalam kerangka MLC adalah langkah awal yang tidak bisa diremehkan.
Peran Perempuan di Laut dalam Pendidikan dan Kepemimpinan Maritim
Perubahan regulasi hanya akan efektif jika didukung oleh perubahan di tingkat pendidikan dan kepemimpinan. Di akademi pelayaran dan sekolah tinggi maritim, jumlah mahasiswa perempuan mulai meningkat, meski masih jauh dari seimbang. Kurikulum pelatihan kini perlahan memasukkan isu kesetaraan gender, hak buruh, dan budaya kerja yang aman.
Peran perempuan di laut juga mulai terlihat di level komando. Kapten kapal perempuan, nahkoda tugboat, kepala kamar mesin, dan pilot kapal di pelabuhan besar menjadi simbol bahwa batasan tradisional mulai runtuh. Meski jumlahnya masih sedikit, kehadiran mereka memiliki efek psikologis kuat bagi generasi muda yang ingin masuk ke dunia maritim.
Di organisasi maritim internasional dan nasional, perempuan mulai menduduki posisi strategis dalam perumusan kebijakan. Mereka terlibat dalam negosiasi MLC, penyusunan panduan keselamatan, hingga perancangan program pelatihan. Representasi ini penting karena pengalaman langsung perempuan di laut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih responsif.
“Ketika perempuan memimpin di sektor maritim, yang berubah bukan hanya angka statistik, tetapi juga cara kita memandang laut sebagai ruang kerja yang layak bagi semua”
Dinamika Lokal Peran Perempuan di Laut di Komunitas Pesisir
Jika lensa diperbesar ke level lokal, peran perempuan di laut tampak sangat beragam. Di beberapa daerah, perempuan ikut melaut sebagai juru mudi perahu kecil, pengumpul kerang, atau penyelam tradisional. Di daerah lain, mereka lebih banyak berperan di darat, mengolah, menjemur, dan menjual hasil laut ke pasar.
Dalam komunitas adat tertentu, laut memiliki dimensi spiritual dan budaya yang kuat, dan perempuan memegang peran sebagai penjaga pengetahuan tradisional. Mereka mengetahui pola musim, lokasi tangkapan tertentu, dan ritual yang terkait dengan keselamatan melaut. Pengetahuan ini sering tidak tercatat dalam dokumen resmi, tetapi menjadi fondasi keberlanjutan praktik perikanan tradisional.
Namun, modernisasi dan industrialisasi perikanan sering kali menggeser posisi perempuan. Ketika kapal kapal besar masuk dan sistem lelang modern menggantikan pasar tradisional, ruang gerak perempuan dalam rantai nilai bisa menyempit. Tanpa kebijakan yang sensitif gender, program bantuan perikanan cenderung hanya menyasar pemilik kapal atau nelayan yang terdaftar, yang sebagian besar laki laki.
Di sinilah pentingnya menghubungkan aturan global seperti MLC dengan konteks lokal. Meski MLC lebih fokus pada pelaut dan kapal niaga, semangat perlindungan dan pengakuan peran perempuan di laut dapat menginspirasi kebijakan nasional yang lebih inklusif untuk seluruh sektor maritim, termasuk nelayan kecil dan pekerja pesisir.
Masa Transisi Implementasi dan Tantangan Nyata di Lapangan
Meski revisi MLC membawa harapan, perjalanan implementasinya tidak akan mudah. Banyak negara maritim masih berjuang dengan pengawasan kapal, keterbatasan sumber daya, dan resistensi dari sebagian pelaku industri yang khawatir akan biaya tambahan. Di sisi lain, budaya patriarkal yang mengakar di banyak komunitas maritim membuat perubahan sikap tidak bisa terjadi dalam semalam.
Sebagian pelaut laki laki mungkin memandang aturan baru sebagai beban, merasa diawasi, atau khawatir interaksi mereka di kapal akan selalu dicurigai. Di sini, edukasi menjadi kunci. Pendekatan yang menekankan bahwa lingkungan kerja aman menguntungkan semua orang, bukan hanya perempuan, perlu terus disuarakan.
Bagi perempuan di laut, keberanian untuk melapor jika mengalami kekerasan juga masih terkendala. Takut kehilangan pekerjaan, takut dicap pembuat masalah, atau tidak percaya pada sistem pengaduan yang ada adalah hambatan nyata. Tanpa jaminan bahwa laporan akan ditangani secara adil dan rahasia, aturan di atas kertas bisa saja tidak banyak mengubah kenyataan di dek kapal.
Namun, momentum sudah terbentuk. Dengan sorotan internasional, tekanan dari konsumen yang makin peduli etika rantai pasok, dan gerakan perempuan maritim yang semakin terorganisir, industri tidak lagi bisa berpura pura bahwa isu ini tidak penting.
Peran perempuan di laut yang dulu hanya dianggap pelengkap kini perlahan bergeser menjadi bagian inti dari diskusi tentang masa depan sektor maritim yang lebih adil dan berkelanjutan.






