BYD Kejar Lebih dari 4.200 SPK di GIIAS 2026 PT BYD Motor Indonesia memasang sasaran tinggi selama Gaikindo Indonesia International Auto Show 2026. Produsen kendaraan energi baru asal China tersebut ingin membukukan surat pemesanan kendaraan dalam jumlah lebih besar dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran 4.200 unit.
Target itu disampaikan ketika GIIAS 2026 berlangsung di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Kabupaten Tangerang, mulai 30 Juli hingga 9 Agustus 2026. Pameran ini menjadi salah satu kesempatan terbesar bagi BYD untuk mempertemukan seluruh lini kendaraannya dengan calon pembeli dari Jabodetabek dan berbagai daerah.
Ambisi tersebut tidak hanya mengandalkan ramainya pengunjung. BYD kini memiliki pilihan produk yang lebih luas dibandingkan saat pertama kali berjualan di Indonesia pada 2024. Portofolionya mencakup kendaraan perkotaan, hatchback, SUV, sedan, MPV listrik, hingga kendaraan dengan teknologi DM yang menggabungkan motor listrik dan mesin bensin.
Capaian 4.195 SPK Menjadi Patokan Baru
BYD menggunakan hasil GIIAS 2025 sebagai tolok ukur utama. Pada penyelenggaraan tahun lalu, BYD bersama merek premiumnya, Denza, mencatat 4.195 surat pemesanan kendaraan selama pameran di ICE BSD. Angka tersebut kemudian sering dibulatkan menjadi sekitar 4.200 unit.
Hasil itu tergolong penting karena BYD baru menjalani tahun kedua keikutsertaannya di GIIAS. Perusahaan tidak hanya memperoleh pesanan, tetapi juga memperkenalkan Atto 1 yang langsung menarik banyak pengunjung karena masuk ke kelompok mobil listrik dengan harga di bawah Rp250 juta.
Pada GIIAS 2026, perusahaan ingin melewati angka tersebut. Sejumlah laporan menyebut target minimal berada di sekitar 4.200 unit, sedangkan laporan lain menyatakan BYD membidik jumlah yang lebih tinggi daripada catatan tahun lalu. Perbedaan penyebutan itu tidak mengubah arah yang ingin dicapai, yaitu mempertahankan pertumbuhan pemesanan di tengah persaingan kendaraan elektrifikasi yang semakin padat.
Surat pemesanan kendaraan belum sama dengan penjualan yang telah tercatat dalam pengiriman ritel. SPK masih dapat berubah karena pembeli harus menyelesaikan pembayaran, persetujuan pembiayaan, pemilihan warna, hingga penyerahan unit. Meski demikian, jumlah SPK tetap menjadi ukuran penting untuk melihat ketertarikan pengunjung selama pameran.
“Target di atas 4.200 SPK menunjukkan bahwa BYD tidak lagi hadir sekadar memperkenalkan merek. Perusahaan mulai menjadikan GIIAS sebagai ruang transaksi besar yang harus menghasilkan pesanan nyata.”
Modal BYD Jauh Lebih Besar Dibanding Dua Tahun Lalu
BYD memulai penjualan kendaraan penumpang di Indonesia pada Januari 2024 melalui Seal, Atto 3, dan Dolphin. M6 kemudian memperluas pilihan dengan menghadirkan MPV listrik untuk enam atau tujuh penumpang.
Pada tahun pertama penjualannya, BYD membukukan 15.429 unit berdasarkan data asosiasi otomotif yang dikutip Reuters. Perusahaan juga memimpin pasar mobil listrik berbasis baterai pada sebagian besar periode tersebut.
Perkembangannya berlangsung cepat. Hingga Juli 2026, BYD menyatakan telah mendistribusikan lebih dari 97.000 kendaraan listrik di Indonesia sejak mulai berjualan. Perusahaan memperkirakan pangsa pasarnya telah melampaui 40 persen dari keseluruhan kendaraan listrik nasional.
Basis pengguna yang semakin besar memberi keuntungan saat mengikuti pameran. Pengunjung tidak lagi hanya mengenal BYD melalui iklan atau berita peluncuran. Banyak calon pembeli telah melihat kendaraan tersebut digunakan oleh keluarga, perusahaan, layanan transportasi, dan pemilik pribadi di berbagai kota.
Jumlah kendaraan yang telah beredar juga membuat pertanyaan konsumen berubah. Pada awal kehadiran BYD, pembicaraan lebih banyak berpusat pada asal merek dan teknologi baterai. Kini calon pembeli lebih sering mempertimbangkan pilihan model, waktu pengiriman, biaya pembiayaan, jaringan servis, serta harga jual kembali.
Atto 1 Berpeluang Kembali Menjadi Penarik Pengunjung
Atto 1 menjadi salah satu produk penting bagi target pemesanan BYD. Mobil listrik kompak tersebut diperkenalkan di Indonesia pada GIIAS 2025 dengan harga awal Rp195 juta untuk varian Dynamic dan Rp235 juta untuk varian Premium.
Kehadirannya membuka pintu bagi konsumen yang sebelumnya menganggap mobil listrik berada di kelompok harga tinggi. Ukurannya juga lebih sesuai untuk penggunaan di perkotaan, terutama bagi pembeli mobil pertama, keluarga kecil, atau pengguna yang membutuhkan kendaraan kedua.
Varian Premium membawa baterai dengan klaim jarak perjalanan hingga 380 kilometer berdasarkan metode NEDC. Atto 1 menggunakan e Platform 3.0 dan Blade Battery, serta menyediakan empat kantung udara pada varian Dynamic dan enam kantung udara pada Premium.
Harga yang relatif terjangkau tidak otomatis menjamin pemesanan besar. Konsumen tetap akan membandingkan Atto 1 dengan mobil bensin kecil, kendaraan listrik merek lain, serta mobil bekas yang memiliki ukuran lebih besar.
BYD harus menjaga ketersediaan unit dan kepastian waktu pengiriman. Harga menarik dapat kehilangan daya apabila antrean terlalu panjang atau pilihan warna sulit diperoleh. Pengunjung pameran biasanya menginginkan penjelasan yang langsung mengenai stok, nomor identifikasi kendaraan, tahun produksi, serta jadwal penyerahan.
M6 Tetap Menjadi Tulang Punggung Segmen Keluarga
Selain Atto 1, BYD menyebut M6 sebagai salah satu model yang paling banyak dipilih konsumen Indonesia. Kendaraan tersebut dirancang sebagai MPV listrik dengan susunan enam atau tujuh tempat duduk, sebuah bentuk yang dekat dengan kebutuhan keluarga di dalam negeri.
M6 menawarkan ruang kabin luas, pilihan kursi kapten pada varian tertentu, atap panoramik, layar tengah 12,8 inci, serta kemampuan pengisian cepat. Varian Superior mendukung daya pengisian DC hingga 115 kW, sedangkan varian Standard mencapai 89 kW. Pengisian dari 30 persen menuju 80 persen diklaim membutuhkan sekitar 30 menit dalam keadaan ideal.
Kendaraan ini juga dilengkapi fitur Vehicle to Load yang memungkinkan energi baterai digunakan untuk menyalakan perangkat listrik melalui adaptor. Fungsinya dapat dipakai saat kegiatan luar ruangan atau ketika pemilik membutuhkan sumber daya tambahan.
Posisi M6 cukup penting karena pasar Indonesia masih sangat menyukai kendaraan keluarga. Konsumen yang sebelumnya menggunakan MPV bensin dapat melihat M6 sebagai jalur perpindahan menuju kendaraan listrik tanpa harus kehilangan jumlah kursi.
Namun, pembeli perlu memperhitungkan pola perjalanan. Keluarga yang sering berkendara antarkota membutuhkan perencanaan pengisian lebih teliti dibandingkan pengguna yang sebagian besar beraktivitas di dalam kota.
M6 DM Memperluas Pilihan Teknologi
Portofolio BYD pada 2026 tidak lagi hanya mengandalkan kendaraan listrik berbasis baterai. Perusahaan juga menampilkan M6 DM, sebuah MPV dengan teknologi yang memungkinkan kendaraan menggunakan energi listrik sekaligus bensin.
Situs resmi BYD Indonesia menyebut pendekatan tersebut dengan kalimat “Bensin Bisa. Listrik Bisa.” Kendaraan dapat diisi melalui sumber listrik, sementara mesin bensin menyediakan dukungan ketika energi baterai tidak mencukupi.
Kehadiran teknologi DM berpotensi menarik konsumen yang belum siap sepenuhnya menggunakan mobil listrik. Kekhawatiran mengenai perjalanan jauh dan ketersediaan pengisian dapat dikurangi karena pengemudi masih mempunyai pilihan mengisi bahan bakar.
Model seperti M6 DM juga memperbesar kelompok calon pembeli di booth BYD. Sebelumnya, orang yang tidak memiliki pengisi daya di rumah mungkin langsung mencoret kendaraan listrik dari daftar. Teknologi gabungan memberi pilihan lain selama konsumen bersedia menerima kebutuhan perawatan mesin bensin.
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa BYD tidak hanya mengejar satu jenis penggerak. Perusahaan berusaha mengisi kebutuhan berbeda melalui baterai murni dan teknologi DM, sambil mempertahankan motor listrik sebagai bagian utama pengalaman berkendara.
Pameran Menjadi Tempat Membandingkan Banyak Model
Target 4.200 SPK harus dicapai dalam pameran yang menghadirkan lebih dari 60 merek otomotif. GIIAS 2026 menggunakan Hall 1 hingga Hall 11 di ICE BSD dan menjadi tempat peluncuran banyak kendaraan baru dari produsen Jepang, Korea Selatan, China, Eropa, serta merek nasional.
Banyaknya peserta memberi keuntungan sekaligus tekanan. Pengunjung dapat berpindah dari satu booth ke booth lain dalam waktu singkat. Harga, cicilan, jarak perjalanan, ukuran kabin, dan fitur keselamatan dapat dibandingkan langsung.
BYD harus memastikan tenaga penjual mampu menjelaskan perbedaan setiap model tanpa membuat pengunjung kebingungan. Seal, Atto 3, Dolphin, M6, Atto 1, dan M6 DM mempunyai sasaran pengguna yang berbeda.
Calon pembeli sedan berperforma tinggi mungkin tertarik pada Seal. Pengguna perkotaan dapat memilih Dolphin atau Atto 1. Keluarga yang membutuhkan ruang lebih besar memiliki M6, sedangkan konsumen yang menginginkan SUV dapat mempertimbangkan Atto 3.
Semakin banyak pilihan dapat meningkatkan peluang transaksi, tetapi juga memperpanjang proses keputusan. Tenaga penjual perlu membantu pembeli menentukan kendaraan berdasarkan kebutuhan harian, bukan sekadar menawarkan varian termahal.
Program Pameran Tidak Cukup Hanya Memberi Potongan Harga
Pemesanan selama GIIAS biasanya didorong oleh program khusus, seperti uang muka ringan, bunga pembiayaan, bonus pengisian daya, asuransi, layanan perawatan, atau aksesori. Ketentuan setiap program perlu dijelaskan secara tertulis agar pembeli mengetahui nilai sebenarnya.
Potongan harga besar belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila berasal dari unit dengan tahun produksi lama. Konsumen perlu memeriksa tahun pembuatan, status stok, warna, kondisi baterai, dan waktu mulai garansi.
Pembeli yang menggunakan pembiayaan juga harus melihat total pembayaran, bukan hanya cicilan bulanan. Tenor panjang memang menurunkan jumlah cicilan, tetapi dapat meningkatkan keseluruhan biaya.
Kepastian pengembalian uang pemesanan juga penting. Formulir SPK harus menjelaskan kondisi pembatalan, waktu pengembalian, harga yang disepakati, serta perlengkapan yang termasuk dalam pembelian.
“Keberhasilan pameran tidak berhenti ketika formulir SPK ditandatangani. Ukuran yang lebih kuat terlihat saat kendaraan benar benar dikirim dan konsumen memperoleh layanan sesuai janji.”
Jaringan Diler Menjadi Penopang Target Besar
Penjualan ribuan kendaraan selama sebelas hari membutuhkan dukungan jaringan yang cukup. Setiap unit yang dipesan harus diproses melalui pemeriksaan pembiayaan, pengurusan dokumen, persiapan kendaraan, dan pengiriman kepada konsumen.
BYD menyatakan telah memiliki lebih dari 15 jaringan penjualan hanya di Jawa Barat hingga Juli 2026. Di provinsi tersebut, perusahaan mencatat lebih dari 10.500 kendaraan dengan pangsa sekitar 50 persen dari pasar kendaraan listrik setempat.
Perluasan jaringan membuat calon pembeli di luar Jakarta tidak harus datang jauh untuk melakukan perawatan. Keberadaan bengkel resmi juga menentukan kepercayaan karena kendaraan listrik membutuhkan teknisi yang memahami sistem tegangan tinggi, perangkat lunak, baterai, dan motor penggerak.
Ketersediaan suku cadang perlu bergerak sejalan dengan penjualan. Komponen bodi, kaca, lampu, sensor, dan perangkat elektronik harus tersedia ketika terjadi kerusakan. Waktu tunggu yang terlalu lama dapat mengurangi kepuasan meskipun kendaraan memiliki teknologi menarik.
Pabrik Subang Masuk dalam Perhitungan Jangka Panjang
BYD sebelumnya mengumumkan pembangunan pabrik bernilai sekitar 1 miliar dolar AS di kawasan industri Subang, Jawa Barat. Fasilitas tersebut dirancang mempunyai kapasitas produksi sekitar 150.000 kendaraan listrik per tahun.
Kehadiran fasilitas produksi lokal dapat memperkuat pasokan apabila operasionalnya berjalan sesuai rencana. Produksi di dalam negeri juga dapat memperpendek jalur distribusi dan membantu penyediaan komponen.
Bagi konsumen GIIAS 2026, persoalan utama tetap berada pada unit yang sedang dijual. Mereka perlu mengetahui apakah kendaraan merupakan hasil impor atau produksi lokal, bagaimana garansinya, serta apakah perbedaan asal produksi memengaruhi spesifikasi.
BYD juga harus menjelaskan status unit secara terbuka. Perubahan sumber produksi dapat berkaitan dengan susunan fitur, pilihan warna, perangkat pengisian, dan jadwal pengiriman.
Angka SPK Akan Menguji Kekuatan Portofolio Baru
Target melampaui 4.200 unit tidak dapat hanya dibebankan kepada satu model. Atto 1 memang memiliki harga yang mudah menarik perhatian, tetapi M6, Atto 3, Dolphin, Seal, serta M6 DM harus memberi sumbangan agar sasaran tercapai.
Komposisi pesanan akan menunjukkan jenis kendaraan yang paling diterima masyarakat pada pertengahan 2026. Dominasi Atto 1 akan memperlihatkan kuatnya permintaan pada mobil listrik terjangkau. Pesanan besar untuk M6 menunjukkan bahwa keluarga mulai menerima MPV listrik. Sementara itu, respons terhadap M6 DM dapat menggambarkan besarnya kelompok konsumen yang menginginkan penggerak listrik tanpa sepenuhnya meninggalkan bensin.
BYD mempunyai modal lebih besar dibanding GIIAS 2025 karena jumlah kendaraan yang sudah beredar telah melewati 97.000 unit. Namun, merek lain juga membawa lebih banyak produk elektrifikasi dengan harga semakin rapat.
Selama pameran berlangsung hingga 9 Agustus 2026, perhatian akan tertuju pada jumlah SPK yang benar benar masuk, model paling banyak dipesan, serta kemampuan jaringan BYD menyerahkan kendaraan sesuai jadwal. Capaian 4.195 unit pada tahun lalu kini menjadi batas yang harus dilampaui apabila perusahaan ingin membuktikan bahwa pertumbuhan produknya tetap sejalan dengan minat pembeli di Indonesia.
